AKTUAL DALAM HARMONI

Kearifan Lokal Desa Adat Tenganan Bali

Tap…tap…sejauh kaki melangkah…sungguh kental aura kebersamaan.Kesibukan berkesenian terlihat di setiap sudut desa. Hilir mudik ‘pebanten’ menghiasi pelataran tiap rumah. Wangi dupa banten semerbak ketenangan.eapa sadarnya masyarakat Desa ini dengan lingkungan. sar. namun iannya terhadap lingkungan.ehidupan warganya menjadi aktual dalNamun yang sangat menakjubkan…betapa sadarnya masyarakat desa ini dengan lingkungan.

salah satu sudut Tenganan

Globalisasi membuat semua orang berlomba-lomba memperlihatkan kemampuannya. Merupakan suatu hal yang baik memang, namun tidak cukup baik bila hal tersebut membuat koridor penglihatan hanya sebatas melihat kesamping yaitu tetangga. Banyak hal bisa dipelajari dari Indonesia, salah satunya dari Desa Adat Tenganan Bali. Kearifan lokalnya dapat membuat seluruh warganya menjaga keberadaan alam yang kita tempati sampai saat ini dengan sangat baik.

Desa yang sudah berdiri sejak abad ke-19 ini bertempat di KarangAsem, Bali. Sekitar 1,5 hingga 2 jam perjalanan dari Denpasar. Keeksotisan yang terdapat di Desa Adat Tenganan ini bisa kita saksikan dalam segala bidang khususnya dari segi Kepercayaan dan agama serta tradisi yang menyertainya dari jaman dahulu. Hal-hal yang dapat membuktikan keteguhan kepercayaan, adat serta Tradisi daripada Desa ini dicerminkan dari rumah-rumahnya yang masih sangat Bali tempoe doeloe. Banyaknya hewan dan tumbuhan yang disakralkan, awig-awig yang begitu mengikat kebersamaan antar masyarakat desa, tradisi khas yaitu perang Pandan dan masih banyak lainnya.

Dewasa ini, masalah lingkungan marak dibincangkan di berbagai kalangan. Tak ketinggalan pula berbagai latar belakang yang menyuarakan kepeduliannya terhadap lingkungan. Berbagai konferensi diadakan untuk melihat sejauh mana yang dapat dilakukan untuk menyelamatkan Ibu Pertiwi tercinta. Namun, di balik itu semua, sudahkah kita melakukan apa yang harus dilakukan untuk merealisasikan hemat-hemat yang dirasa perlu untuk menjaga keberlangsungan hidup lingkungan?? Desa Adat Tenganan, Bali dalam hal ini sudah melakukan berbagai upaya untuk menjaga lingkungan jauh sebelum wacana Global Warming mulai merebak.

Pada hakikatnya, lingkungan merupakan suatu media di mana mahluk hidup tinggal, mencari kehidupannya, memiliki karakter serta fungsi yang khas dimana terkait secara timbal balik dengan keberadaan mahluk hidup yang menempatinya, terutama manusia yang memiliki peranan kompleks dan riil. (Elly M. Setiadi, dkk, Ilmu Sosial dan Budaya Dasar, 2006). Kenyataannya, sebagian besar manusia justru mungkir dari kewajibannya melakukan timbal balik terhadap alam. Tentu saja hal ini tidak dapat dibiarkan secara berkepanjangan jika manusia masih ingin menikmati keindahan alam semesta ini.

Beberapa pencitraan satelit yang sempat dilaporkan dahulu menunjukkan betapa tidak terawatnya tanah tempat kita berpijak. Bocel dan lubang di sana sini, tak heran Global Warming merupakan salah satu efek samping dari ‘penyakit’ lingkungan kita. Tapi yang patut dibanggakan, di kawasan Desa Tenganan, masih cukup luas hutan yang menyelimutinya. Hampir setengah dari kawasan Desa Tenganan merupakan hutan yang banyak ditumbuhi bahkan oleh tanaman langka.

kerbau2 ini dibiarkan berkeliaran bebas di wilayah desa

kerbau2 ini dibiarkan berkeliaran bebas di wilayah desa

Desa Adat Tenganan bisa menjaga kelestarian hutan di sekitarnya bukan secara instan. Keberadaan hutan di sekitar Desa adat sudah dijaga jauh sebelum kesadaran masyarakat terhadap lingkungan disentak oleh isu Global Warming. Desa Adat Tenganan sejak dulu memiliki birokrasi yang kuat terhadap apa-apa yang dilakukan berkenaan dengan lingkungan. Setiap masyarakat desapun saling bahu membahu mempertahankan hal itu. Meskipun desa ini merupakan wilayah yang cukup terpencil, mereka tidak berkecil hati namun tetap pada pendirian teguhnya untuk menciptakan hidup yang layak bahkan untuk generasi mendatang nantinya.

Desa yang memiliki tradisi tradisi turun menurun perang pandan ini memiliki kepercayaan untuk melindungi beberapa tanaman yang terdapat di sana. Tanaman-tanaman tersebut yaitu Kemiri, Durian, Nangka dan Kamboja. Kepercayaan masyarakat mengatakan tanaman ini tidak boleh diambil buahnya apalagi ditebang. Hal ini bila dilanggar akan menyebabkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan melanda desa. Buah dari tanaman ‘terlarang’ tersebut hanya dapat dinikmati bila sudah jatuh dari pohonnya.

Uniknya lagi sehubungan dengan tanaman ‘terlarang’ di kawasan Desa Tenganan, setiap Kepala Keluarga yang memiliki tanaman tersebut diharuskan membayar pajak Rp. 500,- pertahun karena buah tersebut dapat dijual ke pasar. Hal ini menimbulkan rasa sayang dan ketertiban dari setiap masyarakat kepada masing-masing tanaman yang dimilikinya.

Lebih jauh, Prebekel ( salah satu pegawai dinas Tenganan ),Bapak Putu Suarjana S.S. mengungkapkan setiap kayu di Desa Adat Tenganan dilindungi. Namun tentu tidak luput dari keperluan masyarakat akan kayu. Masyarakat Desa Tenganan memiliki tata cara khusus dalam sistem pelaksanaan penebangan kayu. Kayu hanya bisa ditebang jika ¾ bagiannya sudah dinyatakan mati. Prosedur pernyataannya sendiri memerlukan proses yang cukup rumit. Masyarakat yang ingin menebang kayu diwajibkan melaporkan keinginannya dan meminta ijin pada Kepala Desa. Selain meminta ijin, merekapun harus membuktikan dengan membawa minimal 5 orang saksi yang menyatakan bahwa pohon yang ingin mereka tebang sudah mati ¾ bagiannya.

tradisi khas di desa Tenganan

tradisi khas di desa Tenganan

Oleh karena itulah illegal logging dapat dihindarkan karena di Desa Tenganan tidak diperkenankan memotong pohon yang masih hidup. Bila ada masyarakat yang kedapatan menebang kayu tanpa seijin Kepala Desa, maka sangsinya harus mengembalikan 2 kali lipat dari tanaman yang ditebang. Sangsi-sangsi tersebut disusun dalam suatu peraturan yang disebut awig-awig. Dalam awig-awig tersebut lebih lanjut dijelaskan tentang sangsi tegas yang akan mendera si pelanggar aturan. Beberapa di antaranya : masyarakat yang menebang kayu didenda dengan mengembalikan 2 kali lipat harga kayu yang ditebang, pohon dilindungi yang berbuah tidak boleh dipetik, bila dipetik maka didenda 25 kg beras, denda sesuai dengan ketentuan,dilarang masuk Pura Desa, tidak ditanya oleh masyarakat lain dan yang paling berat ialah dikeluarkan dari desa adat.

Sehubungan dengan awig-awig tersebutlah, maka desa Adat Tenganan bisa tetap menjaga eksistensinya sebagai desa berwawasan lingkungan. Selain itu pula, awig-awig mendidik masyarakat Desa Tenganan sedini mungkin untuk menjaga dan menghargai tumbuhan di sekitar kita. Khususnya karena sebagai manusia, kitalah yang memiliki kewajiban untuk menjaga dan melestarikan alam ini. Pemakaian alam yang berlebihan tentu akan menimbulkan dampak buruk tidak hanya bagi diri sendiri namun termasuk pula lingkungan dan masyarakat sekitar. Kerusakan alam dalam jangka panjang dapat memberikan segala hal yang tidak diharapkan.

Kearifan lokal masyarakat Tenganan dalam menjaga lingkungannya dapat kita contoh dan teladani sebagaimana yang diharapkan agar dapat mewujudkan kehidupan yang lebih sejahtera bagi semua kalangan. Masyarakat Tenganan dapat membuktikan dengan kehidupan lingkungan yang teratur, kelangsungan hidup lingkungan dan mayarakat berlangsung hingga batas maksimal. Keharmonian masyarakat Tenganan tidak lepas dari semua kalangan yang mendukung. Baik itu perangkat awig-awig serta mayarakatnya.

Desa Adat Tenganan, Bali hanyalah salah satu contoh nyata akan kepedulian serta keteraturan warganya dalam melestarikan lingkungan. Bila seluruh lapisan dapat meneladani hal ini, maka tentunya tidak akan ada lagi ungkapan Ibu Pertiwi sedang menangis melihat kita, bukan?? kitapun dapat berperan didalamnya walaupun hanya diwakili dengan kegiatan yang terbilang ‘kecil’ , namun tetap dibutuhkan oleh alam ini. Maka dari itu, “ Jadilah Sahabat Bumi “ agar semakin banyak hal yang dapat kita lakukan bagi bumi dan alam kita yang kita cintai ini.

Lina P.W.- Fakultas Sastra, Universitas Udayana, Bali

One Response to “AKTUAL DALAM HARMONI”

  1. “Tap…tap…sejauh kaki melangkah…sungguh kental aura kebersamaan.Kesibukan berkesenian terlihat di setiap sudut desa. Hilir mudik ‘pebanten’ menghiasi pelataran tiap rumah. Wangi dupa banten semerbak ketenangan.eapa sadarnya masyarakat Desa ini dengan lingkungan. sar. namun iannya terhadap lingkungan.ehidupan warganya menjadi aktual dalNamun yang sangat menakjubkan…betapa sadarnya masyarakat desa ini dengan lingkungan.”

    karena mereka bersiap2 menyambut para turis hehe…

Leave a Reply