Archive for July, 2009

(DUREN SEKEN) Serasa Menghirup Udara Lampau

Posted in GO!stage with tags , , , , on July 29, 2009 by indiegomagz

Wanita dijajah pria sejak duluuu…

Namun ada kala pria tak berdaya, bertekuk lutut di sudut kening wanita….”

white shoes and the couples company

white shoes and the couples company

Itulah sepenggal lagu yang dialunkan White Shoes and The Couple Company di pagelaran yang diadain sama Fakultas Pariwisata UNUD  Sabtu (11/7) kemarin. Pagelaran yang bertajuk “Tempo Dulu” ini ternyata cukup mengundang perhatian penonton meski terguyur hujan sekilas.

Hujan yang mengguyur lapangan TVRI saat acara berlangsung tidak menyurutkan niat para penonton untuk bergoyang bersama. Terutama saat penampilan Ed Eddy and Residivis. Penonton yang awalnya sempat berteduh di tenda-tenda karena hujan, mulai memenuhi lapangan untuk menunjukkan apresiasi mereka.

Selain band, segala hal yang berhubungan dengan jaman dulu diumbar dalam acara yang mengundang tak kurang dari 9 band dan bertempat di lapangan parkir TVRI ini. Band- band indie yang turut meramaikan acara ini antara lain: The Sora, Dialog Dini Hari, Zio, Papronic, De Buntu, Joyride, Ed Eddy & Residivis, The Lepyek Group dan bintang tamu Read more »

HIV / AIDS BAGI MEREKA…

Posted in Uncategorized on July 8, 2009 by indiegomagz

Matahari menelusup di antara ragam pepohonan. Tanah lembap mengiringi nuansa segar menemani sinar surya yang menari – nari diantara bebatuan kali. Bau asap dupa merebak saat seorang wanita mempersembahkan sebuah canang di Padmasana. Bermacam bunga dan sesajen pun tersusun rapi dan terlihat apik. Kadang beberapa anak kecil terlintas, bermain tanpa beban yang berarti. Disekitarnya terdapat beberapa wanita sedang terduduk santai sambil melakukan aktifitasnya masing – masing. Itulah kesan pertama saat memasuki daerah lokalisasi pekerja seks komersial (PSK), 5 Juli 2009.

Terletak di tengah kota, lokalisasi ini telah tumbuh jauh sebelum terjadinya krisis global di Indonesia. Dengan berbagai bilik beton tak kurang dari 3X2 meter menghiasi tempat itu. Modalnya pun sederhana, hanya kasur dan terkadang meja sebagai furniture utama yang disediakan bagi PSK dan pelanggannya untuk Adu Kuat. “Sewaktu saya kecil, lokalisasi ini udah berdiri disini”. Kata Wayan, germo yang cukup dikenal dalam urusan dunia esek – esek di pulau Bali. Wayan pun bercerita bahwa ada banyak lokalisasi yang tersebar di daerah ini. Selain disini, ada juga yang terletak di Nusa Dua, daerah Carik, Padang Galak dan Sanur untuk kawasan Denpasar. Namun yang istimewa di lokalisasi Gatsu (Gatot Subroto) ini adalah tersedianya klinik pemeriksaan HIV / AIDS khusus untuk para PSK yang bekerja disana.

Baginya, kesadaran untuk memerangi HIV / AIDS sudah berada dalam benaknya sedari dulu. Dibantu oleh KPA (Komisi Penanggulangan AIDS), dirinya merupakan salah satu saksi dalam pendirian areal permanen yang digunakan sebagai klinik untuk pemeriksaan penyakit HIV/ AIDS. “Ada banyak lokalisasi yang tidak memiliki lokasi khusus untuk pemeriksaan HIV / AIDS. Malah ada yang masih berupa pemeriksaan keliling atau dokter yang rutin datang untuk membantu pemeriksaan. Untungnya disini udah tersedia tempatnya” ujarnya. Read more »

indieGO! #8

Posted in e-zine with tags , , on July 8, 2009 by indiegomagz
by Sanjay

by Sanjay

Waow, sekilas di depan gw terpampang sebentuk mahluk keren. Modal Jaket kulit dan sepatu bot mantaph. Suara kerincingan rantai dompet menggema jalan. Kacamata hitam menutup mata yang aslinya mungkin tak sekeren kacamatanya. Ga sengaja dia noleh ke arah gw. Dia mendekat, tiba – tiba gw takut. Perasaan gw ga enak. Pengen lari tapi dibelakang tembok. Pengen tereak – tereak tapi takut disangka gila. Gw mesti ngapaen? Satu – satunya cara gw harus hadapin orang itu. Benar! Begitu dia mendekat, gw akan tereak “Bencooong! Dibelakang Loe!!!”. Yah, ide bagus! Dia mendekat! 2meter! 1,5 meter! 1meter! 3,1/4 phi X diameter lingkaran sama dengan 2700 rupiah!

“Tap!” dia berhenti. Kita terpaku. Jantung gw berdetak kaya suara mesin perata jalan. Kerongkongan mengering. Wajah berkeringat. Kaki gemetaran. Lidah pun melet – melet. Taktik “bencong dibelakang” harus gw keluarkan sekarang.  Gw ga tahu dia ini orang apa. Mungkin aja dia agen pemerintah yang maw memperkosa mahluk – mahluk kaya gw atau alien yang datang ke bumi buat ngambil otak gw untuk riset skripsi S1 di planetnya (ngomong – ngomong alien takut ama bencong kagak yah?). Kita terpaku kaya rose dan jack pertama kali ketemu di dek kapal TITANIC. Penuh hasrat dan birahi. Pelan – pelan dia buka kacamatanya…. Dan…. “Bleguk?”

“Hehehe, keren ga dandanan gw?” suara jakun mahluk setengah jerapah ini membahana. “Gila! Gw kira syapa…!” sambil ngelus – ngelus dada rata gw yang sesexy korban busung lapar afrika. Setelah tenang akan kejadian yang nimpa gw malam ini, gw tanya bleguk ngapaen dia berdandan kaya arnold Schwazenenger  gitu. “METAL! Gw Mau nonton konser neh!” sambil ngacungin salam khas tiga jari ke muka gw. “Loe bisa nonton konser metal? Gw kira jiwa loe di keroncong aja” hehehe… “Sial! Sekali – sekali ngikutin jaman boleh donk! Eh, baju loe udah item…. Loe ikutan aja yokz? Gw yang bayarin deh”

Akhirnya setelah diiming – imingi tiket gratis dan tampilan konser yang asik, gw ngikut juga. Berhubung gw suka musik, gw okeh – okeh aja ngikutin segala genre musik. Kalo Metal? Bole Juga!!!

Come on, angkat adrenalinmu dengan metal bareng indieGO! E-Magz.

download indieGO! #8