Matahari menelusup di antara ragam pepohonan. Tanah lembap mengiringi nuansa segar menemani sinar surya yang menari – nari diantara bebatuan kali. Bau asap dupa merebak saat seorang wanita mempersembahkan sebuah canang di Padmasana. Bermacam bunga dan sesajen pun tersusun rapi dan terlihat apik. Kadang beberapa anak kecil terlintas, bermain tanpa beban yang berarti. Disekitarnya terdapat beberapa wanita sedang terduduk santai sambil melakukan aktifitasnya masing – masing. Itulah kesan pertama saat memasuki daerah lokalisasi pekerja seks komersial (PSK), 5 Juli 2009.
Terletak di tengah kota, lokalisasi ini telah tumbuh jauh sebelum terjadinya krisis global di Indonesia. Dengan berbagai bilik beton tak kurang dari 3X2 meter menghiasi tempat itu. Modalnya pun sederhana, hanya kasur dan terkadang meja sebagai furniture utama yang disediakan bagi PSK dan pelanggannya untuk Adu Kuat. “Sewaktu saya kecil, lokalisasi ini udah berdiri disini”. Kata Wayan, germo yang cukup dikenal dalam urusan dunia esek – esek di pulau Bali. Wayan pun bercerita bahwa ada banyak lokalisasi yang tersebar di daerah ini. Selain disini, ada juga yang terletak di Nusa Dua, daerah Carik, Padang Galak dan Sanur untuk kawasan Denpasar. Namun yang istimewa di lokalisasi Gatsu (Gatot Subroto) ini adalah tersedianya klinik pemeriksaan HIV / AIDS khusus untuk para PSK yang bekerja disana.
Baginya, kesadaran untuk memerangi HIV / AIDS sudah berada dalam benaknya sedari dulu. Dibantu oleh KPA (Komisi Penanggulangan AIDS), dirinya merupakan salah satu saksi dalam pendirian areal permanen yang digunakan sebagai klinik untuk pemeriksaan penyakit HIV/ AIDS. “Ada banyak lokalisasi yang tidak memiliki lokasi khusus untuk pemeriksaan HIV / AIDS. Malah ada yang masih berupa pemeriksaan keliling atau dokter yang rutin datang untuk membantu pemeriksaan. Untungnya disini udah tersedia tempatnya” ujarnya. Read more »
