indieGO! #9

Posted in e-zine with tags on August 6, 2009 by indiegomagz
by abe

by abe

“ Hey Ho… Lets Go! “ Selepas denger lagu Blitzkrieg Bop miliknya Ramones gw jadi tambah semangat. Band dedengkot punk asal New York ini keren banget. Mulai dari dandanannya ampe lagunya, Jiaah… emang gw banget. Setidaknya itulah yang gw rasain sewaktu nge’bongkar’ isi Harddisk milik Bleguk dirumahnya.
Selain Harddisk, ternyata si empunya Harddisk juga keranjingan punk. Berangkat dari pernak – pernik punk, cd – cd punk, poster band punk sampe ngebuat rambut hitam dangdut Bleguk bergaya semi Mohawk dengan warna cerahnya. Hem, well, kalo gw liat sih lebih mirip kaya burung kasuari mau kawin. Tapi ya sudahlah. Itulah Bleguk, temen karib gw yang kadang kalo dandan suka ga kepalang tanggung namun yang melihat merasa ingin memberikan kepalan tangan. “Oi! Oi! Oi!” Kadang – kadang si Bleguk suka ngagetin gw dengan teriakan “oi!” nya itu. Sempet gw kira dia lagi manggil tukang mie keliling. Setelah lama berpikir, baru gw sadar dia lagi ngucapin ‘salam’ kemerdekaan para kaum punk. Yeah!
Punk emang asik, ga cuman sekedar style namun juga ideologinya. Do It Yourself adalah semboyan yang nyebar luas ga cuman di komunitas punk. Dengan DIY, gw bareng temen – temen band gw jadi bisa lebih mandiri dalam berkarya, branding dan distribusi. Si Bleguk juga lebih mandiri. Kalo dulu dia pengen bolos suka nitip absen ke gw. Sekarang dia kalo maw bolos selalu mengatakannya terlebih dahulu kepada guru. Mandiri. Namun sayang tak bermasa depan. Balik ke Punk, Loe maw tau lebih banyak tentang Genre music yang satu ini? Scroll aja indieGO! Edisi Punk ini dengan semangat membara! “Oi! Oi! Oi!” (nb : Jangan terlalu keras scroll mousenya, ntar rusak loh, wkwkwkwk).

download indieGO! #9

Advertisements

(DUREN SEKEN) Serasa Menghirup Udara Lampau

Posted in GO!stage with tags , , , , on July 29, 2009 by indiegomagz

Wanita dijajah pria sejak duluuu…

Namun ada kala pria tak berdaya, bertekuk lutut di sudut kening wanita….”

white shoes and the couples company

white shoes and the couples company

Itulah sepenggal lagu yang dialunkan White Shoes and The Couple Company di pagelaran yang diadain sama Fakultas Pariwisata UNUD  Sabtu (11/7) kemarin. Pagelaran yang bertajuk “Tempo Dulu” ini ternyata cukup mengundang perhatian penonton meski terguyur hujan sekilas.

Hujan yang mengguyur lapangan TVRI saat acara berlangsung tidak menyurutkan niat para penonton untuk bergoyang bersama. Terutama saat penampilan Ed Eddy and Residivis. Penonton yang awalnya sempat berteduh di tenda-tenda karena hujan, mulai memenuhi lapangan untuk menunjukkan apresiasi mereka.

Selain band, segala hal yang berhubungan dengan jaman dulu diumbar dalam acara yang mengundang tak kurang dari 9 band dan bertempat di lapangan parkir TVRI ini. Band- band indie yang turut meramaikan acara ini antara lain: The Sora, Dialog Dini Hari, Zio, Papronic, De Buntu, Joyride, Ed Eddy & Residivis, The Lepyek Group dan bintang tamu Continue reading

HIV / AIDS BAGI MEREKA…

Posted in Uncategorized on July 8, 2009 by indiegomagz

Matahari menelusup di antara ragam pepohonan. Tanah lembap mengiringi nuansa segar menemani sinar surya yang menari – nari diantara bebatuan kali. Bau asap dupa merebak saat seorang wanita mempersembahkan sebuah canang di Padmasana. Bermacam bunga dan sesajen pun tersusun rapi dan terlihat apik. Kadang beberapa anak kecil terlintas, bermain tanpa beban yang berarti. Disekitarnya terdapat beberapa wanita sedang terduduk santai sambil melakukan aktifitasnya masing – masing. Itulah kesan pertama saat memasuki daerah lokalisasi pekerja seks komersial (PSK), 5 Juli 2009.

Terletak di tengah kota, lokalisasi ini telah tumbuh jauh sebelum terjadinya krisis global di Indonesia. Dengan berbagai bilik beton tak kurang dari 3X2 meter menghiasi tempat itu. Modalnya pun sederhana, hanya kasur dan terkadang meja sebagai furniture utama yang disediakan bagi PSK dan pelanggannya untuk Adu Kuat. “Sewaktu saya kecil, lokalisasi ini udah berdiri disini”. Kata Wayan, germo yang cukup dikenal dalam urusan dunia esek – esek di pulau Bali. Wayan pun bercerita bahwa ada banyak lokalisasi yang tersebar di daerah ini. Selain disini, ada juga yang terletak di Nusa Dua, daerah Carik, Padang Galak dan Sanur untuk kawasan Denpasar. Namun yang istimewa di lokalisasi Gatsu (Gatot Subroto) ini adalah tersedianya klinik pemeriksaan HIV / AIDS khusus untuk para PSK yang bekerja disana.

Baginya, kesadaran untuk memerangi HIV / AIDS sudah berada dalam benaknya sedari dulu. Dibantu oleh KPA (Komisi Penanggulangan AIDS), dirinya merupakan salah satu saksi dalam pendirian areal permanen yang digunakan sebagai klinik untuk pemeriksaan penyakit HIV/ AIDS. “Ada banyak lokalisasi yang tidak memiliki lokasi khusus untuk pemeriksaan HIV / AIDS. Malah ada yang masih berupa pemeriksaan keliling atau dokter yang rutin datang untuk membantu pemeriksaan. Untungnya disini udah tersedia tempatnya” ujarnya. Continue reading

indieGO! #8

Posted in e-zine with tags , , on July 8, 2009 by indiegomagz
by Sanjay

by Sanjay

Waow, sekilas di depan gw terpampang sebentuk mahluk keren. Modal Jaket kulit dan sepatu bot mantaph. Suara kerincingan rantai dompet menggema jalan. Kacamata hitam menutup mata yang aslinya mungkin tak sekeren kacamatanya. Ga sengaja dia noleh ke arah gw. Dia mendekat, tiba – tiba gw takut. Perasaan gw ga enak. Pengen lari tapi dibelakang tembok. Pengen tereak – tereak tapi takut disangka gila. Gw mesti ngapaen? Satu – satunya cara gw harus hadapin orang itu. Benar! Begitu dia mendekat, gw akan tereak “Bencooong! Dibelakang Loe!!!”. Yah, ide bagus! Dia mendekat! 2meter! 1,5 meter! 1meter! 3,1/4 phi X diameter lingkaran sama dengan 2700 rupiah!

“Tap!” dia berhenti. Kita terpaku. Jantung gw berdetak kaya suara mesin perata jalan. Kerongkongan mengering. Wajah berkeringat. Kaki gemetaran. Lidah pun melet – melet. Taktik “bencong dibelakang” harus gw keluarkan sekarang.  Gw ga tahu dia ini orang apa. Mungkin aja dia agen pemerintah yang maw memperkosa mahluk – mahluk kaya gw atau alien yang datang ke bumi buat ngambil otak gw untuk riset skripsi S1 di planetnya (ngomong – ngomong alien takut ama bencong kagak yah?). Kita terpaku kaya rose dan jack pertama kali ketemu di dek kapal TITANIC. Penuh hasrat dan birahi. Pelan – pelan dia buka kacamatanya…. Dan…. “Bleguk?”

“Hehehe, keren ga dandanan gw?” suara jakun mahluk setengah jerapah ini membahana. “Gila! Gw kira syapa…!” sambil ngelus – ngelus dada rata gw yang sesexy korban busung lapar afrika. Setelah tenang akan kejadian yang nimpa gw malam ini, gw tanya bleguk ngapaen dia berdandan kaya arnold Schwazenenger  gitu. “METAL! Gw Mau nonton konser neh!” sambil ngacungin salam khas tiga jari ke muka gw. “Loe bisa nonton konser metal? Gw kira jiwa loe di keroncong aja” hehehe… “Sial! Sekali – sekali ngikutin jaman boleh donk! Eh, baju loe udah item…. Loe ikutan aja yokz? Gw yang bayarin deh”

Akhirnya setelah diiming – imingi tiket gratis dan tampilan konser yang asik, gw ngikut juga. Berhubung gw suka musik, gw okeh – okeh aja ngikutin segala genre musik. Kalo Metal? Bole Juga!!!

Come on, angkat adrenalinmu dengan metal bareng indieGO! E-Magz.

download indieGO! #8

indieGO! #7

Posted in Uncategorized on June 1, 2009 by indiegomagz
cover indiego! #7

by bonzu

Uuuh, hari ini hujan lagi…. Aneh deh, padahal bulan ini harusnya musim kemarau tapi koq malah ngujan gini yakh? Wah, mungkin gini yah yang namanya efek Gombal Eh, Global warming. Kalau dulu yang namanya musim kemarau pastinya panas dan yang namanya musim hujan pasti basah. Sekarang boro – boro musim kemarau ada panas, yang ada hujan lebat atau malah kadang – kadang panas tapi kelewat panaaaaas banget. Akhirnya daku pun tahu perasaan kepiting panggang yang tergeletak tak berdaya di atas pemanggangan. Ditaburi merica, dan kecap… ugh..Sedapnyaaa…. lo? Aku ngomong apa ini? Ngomong-ngomong cuaca yang tidak menentu, si Bleguk yang mukanya juga tidak menentu hari ini engga skulah, katanya sih sakit gara – gara pancaroba merajalela. Sepi juga ga ada dia, yah… ntar gw ke rumahnya aja sepulang sekolah.
Akhirnya setelah bel penyelamat berbunyi, gw memenuhi tugas suci untuk menjenguk bleguk. Nyampenya di rumah bleguk yang supeeeeer guedeeee (Sueeer, kaya kastil – kastil cina gitu) gw dianterin ama pelayannya yang udah sigap sewaktu gw dateng. Nyampe di kamar, yang ada pemandangan di depan adalah sesosok mahluk jejadian lagi maen PS 2 sambil ngunyah pisang goreng sekalian ngidupin komputer yang lagi muterin musik . Yah, bukannya kasian gw malah ngelongo ngeliat muka bleguk yang tambah menggemuk dan men-sehat. Setelah sapa menyapa sambil berurai air mata, gw nyelosor ke komputernya dia yang muterin lagu bejibun banyaknya. Kayanya koleksi lagu bleguk bakalan abis keputer 2 tahun kemudian atau kalo ga komputernya yang K.O duluan. Isi harddisk 320GB di komputerna yang kesisa cuma sekitar 5gb, padahal isinya cuma lagu aja. Ga ada yang laen, ga ada video, ga ada paper sekolah, ga ada foto, ga ada resep masakan, ga ada bokep (tapi di harddisk sebelahnya nya bejibun) cuma Lagu and Musik. Buset, cuma musik aja bisa segini banyak? Kepikiran juga kenapa musik bisa beragam kaya gini yah? Rock, pop, metal, punk, reggae, blues, jazz, hip hop, rap, keroncong, dangdut, ska, de el el… Wah, asik juga nih ngulik – ngulik asal usul musik sambil ditemenin lagu – lagu asoy n’ makan pisang goreng yang anget. Adeeeeem!!! (Akhirnya bukan ngejenguk, gw malah ngabisin jatah makanan si bleguk deh)

download indieGO! #7

indieGO! #6

Posted in e-zine with tags , , , , on April 28, 2009 by indiegomagz
by esha

by esha

Siang itu gw pergi ke kantin skulah setelah pelajaran pertama usai. Maw npaen? Ya, tentunya membantu ibu kantin tercinta buat nusuk temen – temen yang selama ini ngutang dsana. Sebagai hadiahnya, hasil penusukan setiap orang bisa dituker satu voucher belanja gratis dikantin selama 1 hari. Untuk itulah gue semangat banget kesana. (Oke..oke… Setelah diketok editor, gw ubah ceritanya) Sebenarnya gw ke kantin emang udah jadwal setiap hari, tapi yang ngebedain waktu itu karena si Bleguk (TARGET : Setengah Manusia, Setengah Dajjal yang mukanya Stengah Siluman setengah Buaya namun hatinya Setengah Salju setengah Es krim) maw minta bantuan ama gw. Nyampe di sana, Guk udah stay sembari bengong ngadep ke arah tembok kantin dengan iler menetes dan keringat bercucuran seperti habis menghindari kejaran gerombolan Para Gay sekampung. gw langsung aja samperin dia. “ Loe Lama Bgt sih datengnya?”, Curhat si Bleguk, “Maaph, maaph, tadi ada nenek nyebrang jalan, ga tega gw” Belaan Gw, “Wah, Hebat, Loe nolongin nyebrang?” Kagum si Bleguk, “engga, gw ngeliatin aja “. “Oooh…, Whatever lah, eh, bantuin gw dunk… “ Curhat ke 2 Guguk. “ Apaan?, ditraktir Teh botol? Oke deh, BU TEh BOTOL satu Dibayarin BLeguk yaw”, Err… Oke,oke… Tapi loe musti bantu gw bgt” , “ Hehe…sip, apaan?”, Setelah cerita aral melintang, Ternyata si Bleguk kepengen nembak cewe. CEWE MANUSIA, ya Benar… bukan Kambing. BUKAN KAMBING sebelahnya, n’ Si Cupid ud langsung ngemanah BleGuk dengan Harpun cinta saat pertama bertemu. “Gue Pengen nembak dia pake lagu, tapi masak gue pake lagu orang?, kan ga berkesan dunk??? HUhuhu…., Gue Pengennya sih buat lagu, Tapi gmana caranya? You must Helep Mi plis” Pintanya…. “ Tenang men… Loe mau buat lagu? Yang beda dari yang laen n’ berkesan mendalam? Loe harus tau yang namanya ORIGINALITAS, Tau apa itu? bukan, bukan Sodaranya Origami, itu lebih kepada identitas kita? Mau Tau lebih banyak???” Pancing gw, “MAU,MAU” Angguk2 Bleguk dengan Naphsunya. “ Loe Harus Scrol halaman indiego6 ini dengan sepenuh hati, So…THIS is It!!! Please Welcome the Creativity of Originality”
(Wau,,wau,,,Yeaaah)

download indieGO! 6

Sister From Musikator

Posted in GO!stage with tags , , , on February 3, 2009 by indiegomagz

yg belum pernah melihat tokoh2 dibalik musikator music network, inilah mereka (ki-kanan) Igo, Dethu, Robin

yg belum pernah melihat tokoh2 dibalik musikator music network, inilah mereka (ki-kanan) Igo, Dethu, Robin

Setelah setahun malang melintang di jagad maya, akhirnya musikator.com,sebuah situs komunitas musik indie dari bali memiliki saudara,musikator.tv, yang mengkhususkan diri untuk menampung videoklip. “bisa dibilang youtube skala lokal, disini kita bisa nemu videoklip yg jaman jadul. Misalnya videoklip Mocca 3 tahun yg lalu..” terang Robin,salah satu gembong musikator. Continue reading